Rabu, 07 September 2011

Catatan Harian Solois Backpack + Itikaf + Mengunjungi Open House Tokoh Nasional

Tanggal 26-29 Agustus 2011, saya melakukan kegiatan Itikaf sendirian, 4 hari 3 malam di masjid Istiqlal, namun di malam ke 3 kawan saya datang turut bergabung. Beruzlah (menyendiri), mencari makna kehidupan, bermunajat.


Itikaf di Istiqlal sangat ramai, dimana – mana ada manusia. Berbagai macam karakter yang unik. Berbagai suku, ras dan etnis. Di setiap malamnya, saya mengisi dengan kegiatan jalan jalan malam sendirian, kecuali malam ketiga (bersama 1 orang kawan saya).

Inilah Urban Traveling yang saya lakukan selama 3 malam. Menjalani hidup sendiri, bebas rasanya. Lonely ranger. Cita-cita saya menjadi solois backpacker agak tercapai disini.

Malam pertama, menjelajahi Juanda & Kawasan Wisata Kuliner Pecenongan.

Pada awalnya, perjalanan saya malam ini betul – betul tidak terencana. Dan memang selama ini saya salah satu orang yang meyakini bahwa kegiatan yang tidak direncanakan alias dadakan / by accident / kebetulan, justru lebih seru dan berkesan daripada kegiatan yang sudah direncakan secara terperinci tapi biasanya justru gagal. 

Perjalanan saya ke juanda dan pecenongan berawal dari insiden yang seringkali menimpa beberapa orang di kamar mandi, yaitu alat mandinya jatuh ke jamban WC dan tidak bersedia untuk mengambilnya kembali. Lantas, apa daya, karena kegiatan itikaf saya baru saja dimulai dan masih ada 3 hari kedepan, maka saya harus membeli peralatan mandi baru, diantaranya : sikat gigi, sabun, shampoo & odol.

Awalnya saya hanya berniat mencari peralatan tersebut di koperasi masjid, tetapi sayangnya koperasinya tutup. Kemudian saya mencari – cari pedagang asongan yang menjualnya, ternyata tidak ada. Padahal begitu banyak pedagang berseliweran, tetapi mereka semua hanya menjajakan makanan & minuman. Lantas saya terpaksa keluar area masjid, Juanda menjadi tujuan pertama saya, karena tinggal nyebrang doank dan kawasan yang ramai oleh pedagang di area stasiun kereta api. 

Disitu kawasannya sangat urban, kawasan padat penduduk yang digagahi oleh angkuhnya apartemen eksklusif yang menjulang, serta tempat makan yang berjejeran tiada habisnya. Adapula alfamart, tapi sudah tutup, pukul 10 malam. Untungnya warung – warung disitu memiliki item dagangan yang lengkap. Lantas saya menemukan seluruh kebutuhan saya. Alhamdulillah. Selesai memenuhi kebutuhan yang cukup mendesak tersebut, saya tidak langsung kembali ke masjid. Rasa penasaran saya semakin menjadi – jadi untuk menjelajahi sepanjang jalanan dari Juanda sampai Harmoni. Sekitar setengah jam perjalanan itu saya tempuh, cukup melelahkan. Namun agak terbayar dengan sedikit cuci mata melihat restoran – restoran mewah sepanjang jalan dan juga kawasan wisata kuliner Pecenongan.

              Foto diatas bukan dokumentasi pribadi, tapi hasil dari situs pencarian, sebagai ilustrasi

Di kawasan wisata kuliner Pecenongan, kondisi masih ramai dipadati para pemburu kuliner, baik turis lokal maupun asing. Terdapat berbagai macam tempat makan, mulai dari warung tenda, cafĂ©, masakan china, kedai kopi sampai restoran mewah. Adapula hotel berbintang dan melati. Kesucian bulan ramadhan pun tak luput ternodai oleh wanita tuna susial yang menjajakan dirinya di hotel – hotel tersebut. Saya bisa menilainya dari penampilan, perilaku dan gaya bicaranya. 

                                  Ini merupakan salah satu sudut keramaian di Pecenongan

                                         Ini merupakan salah satu hotel di Pecenongan

Kebetulan saya menemukan minimarket lagi, kali ini buka sampai larut malam, mungkin 24 jam. Lalu saya membeli beberapa penganan untuk saya santap sendirian sembari begadang menghabiskan malam pertama di masjid istiqal. Sebungkus wafer dan sekaleng minuman soda saya beli. Alih – alih menemani romantika saya, minuman soda yang saya beli tersebut esok harinya justru menjadi sumbu kesialan saya pada dini hari. Sakit perut yang begitu menyiksa saya alami pukul 3 pagi. Keterbatasan kamar mandi serta jemaah yang ramai, membuat antrean yang mengular. Saya menahan sakit perut begitu lama dan menghabiskan waktu yang cukup lama pula di dalam kamar mandi, sehingga waktu sahur habis terbuang tanpa bersantap. Ini menjadi pelajaran bagi saya, agar tidak ‘belagu’ minum minuman soda lagi di saat yang tidak tepat.

Malam kedua, kawasan Monas.

Malam kedua saya sudah saya rencanakan akan menjelajahi kawasan Monas. Namun saya tidak tahu menahu akan ada tabligh akbar. Perjalanan ke monas saya tempuh melalui jalan pintas yang ada di sisi barat masjid. Sepanjang jalan tersebut ada beberapa restoran mewah, salah satunya adalah Es Krim Ragusa, Es Italia yang melegenda di kota Jakarta. Karena hanya satu – satunya dan sudah lama berdiri, sejak tahun 1932 tidak pernah kehilangan penikmatnya. Beberapa menit menempuh perjalanan, sesampai di Monas, kawasan sudah begitu ramai dipadati pengunjung dan pedagang.


Singkat cerita, setelah puas mengelilingi Monas di berbagai sudut, saya berlabuh pada sebuah keramaian jemaah sebuah pengajian yang menunggu dimualinya suatu acara akbar. Awalnya saya hanya ikut – ikutan sembari istirahat sejenak, meluruskan kaki. Kemudian acara dimulai, sebuah orasi dari seorang tokoh keagamaan diperdengarkan, isinya sarat dengan kritik sosial, politik dan ekonomi. Begitu menyindir pemerintah dan menyentil konglomerat. Membedah dan mengoyak sistem sosial-ekonomi di masyarakat yang menciptakan kemiskinan. Kegiatan ini semacam pergerakan sosial, revolusi. Ribuan jemaah dipergerakkan, kaum miskin dimobilisasi, elit yang korup dihujat.


Kegiatan tersebut usai pukul setengah 2 malam, lelah dan kantuk menggelayut, tanpa pikir panjang saya bergegas kembali ke masjid. Sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang, rasanya kawasan monas habis merayakan tahun baru, sampah berserakan dimana – mana, koran, tikar dan berbagai alas duduk ditinggal begitu saja, menambah kerepotan petugas kebersihan. Di luar kawasan Monas ratusan jemaah sudah bersiap pulang dengan kendaraan yang disewa. Suara riuh menggema, teriakan sahur, takbir sampai gebukan gendang / drum. Saya tak ambil peduli, dan meneruskan perjalanan pulang. Sepanjang perjalanan pulang saya disuguhi pemandangan yang menjadi refleksi diri, sekumpulan gelandangan yang tidur di troroar & rerumputan dengan hanya beralaskan kardus. Hiburan mereka hanyalah tawa canda satu sama lain dan radio butut. Mungkin juga bintang malam yang memberi mereka senyuman.

                                                   Salah satu sudut Jakarta, dini hari

Malam ketiga, Monas sampai Bunderan HI.

Di malam ketiga ini, saya ditemani 1 orang teman kuliah saya di UI, Fajar Imam Zarkasyi. Beliau sudah sejak lusa berencana akan datang kemari ikut itikaf, sekalian mau menjelajahi kawasan Monas di malam hari. Singkat cerita, malam ini bukan lagi solois backpacker bagi saya, tapi duo.
Seperti malam – malam sebelumnya, acara jalan – jalan malam dimulai sehabis menunaikan salat tarawih. Jalur yang ditempuh pun juga sama. Sesampai di kawasan Monas, keramaian tak ubahnya seperti kemarin malam, hanya saja, pengunjung malam hari ini tidak didominasi jemaah pengajian. Lagi – lagi berbagai sudut Monas dijelajahi. Lalu, lagi – lagi pula, sebuah ide yang tak terencana tercetus : berjalan kaki menjelajahi jalan Thamrin, dari Monas pintu keluar yang menghadap BI sampai Bunderan HI. Kawan saya langsung sepakat tanpa berdebat. Sepanjang trotoar jalan Thamrin kami lalui, berbagai gedung pencakar langit bediri angkuh di kanan kiri, mobil melintas, semilir angin malam menerpa. Sesekali kami menghentikan perjalanan untuk berfoto ria.

                                          Foto - foto diatas yang jadi modelnya itu temen ane gan ! :)
                                                         


Tak terasa sampai di Bunderan HI, ide tak terencana terus menerus tercetus bagai rangkaian ledakan petasan yang merembet. Saya menawari melanjutkan perjalanan sampai jalan Sudirman dan sentra bisnis Kuningan, kawan saya setuju. Namun sebelumnya saya juga menawarkan ke Mall Grand Indonesia, tapi sayang, pukul setengah 11, mall sudah tutup, hanya XXI Cinema yang buka. Tanpa disengaja, kami melihat indomaret dibelakang gedung Plaza Indonesia, lalu kami kesana untuk membeli air mineral. Namun tak disangka, bahwa ternyata tepat di belakang Plaza Indonesia, ada kawasan pemukiman penduduk lengkap dengan kantor RW, tempat ronda siskamling, juga disertai rumah makan sederhana seperti warteg dan masakan padang, adapula pedagang kaki lima. Lantas, kami makan malam sejenak di sebuah warteg. Menu dan peralatan makannya memiliki kualitas diatas rata – rata warteg pada umumnya, karena warteg ini tepat di tengah kawasan kota yang elit, sentra bisnis & politik. Omzetnya pun dapat melampaui angka jutaan rupiah sehari, inilah alasan pemda DKI Jakarta berencana memungut pajak warteg.

Usai santap malam, kami merasa malas untuk melanjutkan perjalanan sampai Sudirman, selain jarak yang jauh, lelah, kenyang juga karena waktu yang larut. Kemudian kami berlabuh sejenak di Bunderan HI, betul – betul di Bunderannya. Disitu ada beberapa komunitas, fotografi, sepeda, dll. Seperti biasa kami berfoto ria, duduk – duduk dan menikmati Jakarta malam.

                                                                Ini baru ane gan ! :)


Puas dengan perjalanan malam ini, kami memutuskan kembali ke masjid Istiqlal. Untuk mempersingkat waktu, kami memilih naik mobil angkot. Cukup unik dan menggelitik memang, ada angkot di jalan protokoler, yang benar – benar menjadi pusat Jakarta. Dan sejauh pengetahuan saya menjelajahi Jakarta siang malam, angkot tersebut adalah satu – satunya angkot yang beroperasi di sepanjang jalan itu. Trayeknya pun saya tak tahu pasti dari mana sampai mana, tapi yang saya tahu, yang ke arah Istiqlal berakhir di Senen. Ongkos tak mahal, cukup merogoh kocek 2000 rupiah sudah turun di Juanda, dan tinggal nyebrang ke Istiqlal.
______________________________________________________________________________

"Rumput Tetangga Memang Lebih Hijau".
Kalo lagi di Masjid Istiqlal, selalu tergoda untuk ngeliatin Gereja Kathedral yang ada di seberang. Dengan gaya arsitektur Gothic Eropa, terlihat lebih seksi !
Dua iman yang saling berhadapan, simbol toleransi.


4 hari 3 malam kegiatan itikaf yang saya lakukan lumayan menjadi pelatihan alami pembentukan karakter. Melatih diri untuk mandiri, hidup dalam keterbatasan, saling berbagi dan mengasah kesabaran.

Buka puasa bersama dengan penuh kebersamaan, tidur tergeletak berjajar di karpet beramai-ramai, berbagi kesempatan menggunakan kamar mandi dengan penuh pengertian. Setiap malam kami solat tahajjud bersama. Banyak pula orang – orang Afrika yang datang dimalam hari saja untuk mengikuti tarawih dan solat tahajjud, lalu paginya mereka pulang. Kehadiran orang – orang Afrika tersebut memberi kesadarn bagi saya mengenai semangat Islam yang menentang rasisme dan mengedepankan kesetaraan manusia sebagai makhluk Tuhan. Kita berdiri sejajar, di barisan shaf yang sama, sujud bersama dan berdoa pada Tuhan yang sama. Kegiatan itikaf semacam ini seperti miniatur universitas. Universitas kehidupan. Nilai – nilai sosial, moral, etika dan kemanusiaan.

Berikut, dokumentasi pribadi dan beberapa hasil googling, kegiatan itikaf -->

                                              Salah satu majalah yang menemani saya

                                                Buka puasa yang penuh kebersamaan :)
                         
______________________________________________________________________________

Mengikuti Acara Open House Beberapa Tokoh Nasional

Hari ini, lebaran hari pertama di tahun 2011. Saya mengunjungi rumah Abu Rizal Bakrie & Agung laksono (mantan ketua DPR & mentri kesra) dalam rangka open house yang mereka adakan.

Melihat kemewahan mereka, saya meragukan semangat yang mereka umbar untuk membela rakyat miskin.

Saya kira wajar bagaimana kaum sosialita menjadi sekuler, mengikuti kegiatan mereka dalam satu hari saja sudah membuat kita terbuai kenikmatan dan melupakan sembahyang. Bayangkan, mereka melakukan hal – hal semacam itu sepanjang hidup mereka.

Baru kemarin saya merasakan “kamar mandi penjara” di Istiqlal dengan segala keterbatasan dan antrian yang panjang, sekarang di rumah ARB, kamar mandi saja begitu mewah, bahkan untuk tidur pun layak.

Esoknya, hari ke 2 lebaran saya mengunjungi rumah Fadel Muhammad (mentri kelautan & perikanan) & Setya Novanto (ketua fraksi Partai Golkar di DPR). Tak jauh berbeda dari 2 rumah pejabat sebelumnya : kaum sosialita, kemewahan & kuliner yang bergelimpangan.

Sabtu, 20 Agustus 2011

Rental Kamar

Seorang teman yang hobinya bermain di warnet seringkali mengeluhkan ketidaknyamanannya setelah bermain berjam- jam. Karena kantuk berat dan letih. Apalagi mata yg bekerja terlalu lama di depan komputer menambah kelelahan yg tak tertahankan. Rasanya ingin rebahan di kasur dan tidur pulas.

Suatu ketika saya menemukan sebuah informasi mengenai suasana warnet di negara jepang yang sangat nyaman. Dilengkapi kasur kecil, kamar mandi yg terawat bisa buat mandi, menu pangan yg lengkap, suasana ruangan yang privat, bersih dan rapih. Bahkan fungsinya bukan hanya sebatas untuk ber-internet, tetapi juga menyediakan rental buku (komik, majalah) dan ruang baca. Serta bisa dimanfaatkan sebagai tempat bermalam.


Bicara mengenai ruang komputer per orang, mereka biasanya membaginya dalam 2 bagian yaitu ruangan terbuka dan ruangan tertutup untuk privasi dengan bentuk bilik-bilik kotak (cubicles). Dan tergantung permintaan, kita bisa memilih untuk satu bilik bisa diisi 1 orang, 2 orang atau lebih dari 2 orang. Dan kadang, mereka juga menyiapkan 2 komputer dalam satu bilik. Bagi para perokok pun disediakan tempat khusus. Bahkan untuk air mineral disediakan secara cuma - cuma dan dapat diambil sepuasnya.

 
Bicara soal kebutuhan, belakangan ini ternyata internet cafe disana tidak sekedar untuk internet tetapi juga sebagai tempat tidur bagi orang-orang tertentu seperti pekerja paruh waktu atau sama seperti Love Hotels digunakan juga untuk tempat untuk bermalam bagi orang yang sudah ketinggalan kereta.

Lihat lebih lanjut, tentang warnet di Jepang -->
http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5490030

Berawal dari kenyamanan yang ditawarkan warnet tersebut, saya sempat berpikiran mengenai sebuah solusi mutakhir untuk mengatasi rasa lelah para pelajar, mahasiswa dan pekerja kantoran di perkotaan.

Kalau di sekolah, kampus & kantor acapkali kita mengalami kantuk berat setelah melakukan aktivitas yang padat. Ujung - unjungnya geletakin kepala di meja, rebahan di lantai atau sandaran di paha temen. Begitu bangun kepala udah pusing, badan pegal, kulit ngebekas motif gak jelas.


Alangkah baiknya kalau ada yang mau bikin rental kamar.
Gak neko - neko! Cukup ada kasur minimalis (single bed) & meja.
Jadi konsepnya, terdapat sebuah labirin yang kanan - kirinya terdapat sekat - sekat kayu yang berisi kamar tersebut. Seperti ini :


Dengan ruang seperti ini -->


Selain sebagai tempat beristirahat di waktu senggang, rental ini juga bisa dimanfaatkan seperti orang Jepang tadi, yang pulang malam, terlalu lelah untuk menempuh perjalanan pulang, terlanjur ngantuk, tidak ada transport lagi dan berbagai alasan lainnya, sehingga membutuhkan tempat bermalam. Bisa dikatakan rental kamar ini sebagai mini hotel. Tentunya dengan harga yang terjangkau bagi semua kalangan.

Jauh lebih baik lagi, jika instansi pemerintah, perkantoran, kampus sampai sekolah di perkotaan mau berinisiatif menyediakan labirin khusus kamar istirahat seperti di atas. Tentunya dengan aturan yang jelas, sehingga tidak disalahgunakan untuk bermalas - malasan dan menurunkan produktivitas kerja.

Sehingga istirahat lebih berkualitas, kerja semakin cerdas!

Minggu, 15 Mei 2011

Hujan

14 Mei 2011

Air berjatuhan tanpa bergiliran rapih
Tetapi saling memburu untuk menapak darat
Menampar tanah dan mencipta bunyi – bunyi keras bergemuruh
Awan hitam bergelantung malas di atas tersenyum sinis

Guntur bersahutan, berteriakan
Memecahkan telinga, mencakar angkasa
Udara bergerak kencang
Melahirkan angin – angin yang memanah
Menumbangkan pohon dan dahan dengan membabi buta tiada lelah
Membuat air semakin keras menampar dan mencambuk

Kegelapan menyusul kedinginan
Mematikan harapan yang tenggelam bersama cahaya di ujung ufuk
Listrik padam tiada upaya
Sebagai simbol runtuhnya akal manusia
Kalahnya teknologi
Lilin – lilin memberi pencerahan
Api hidup menyala merah
Berdiri tegak mencipta bayang
Air mengumpul, menggenang sampai membanjir dan menenggelamkan
semua yang ada

Tersisa hanya jiwa dan tubuh yang rapuh menahan dingin
Bilamana bumi dan langit saling mencabik
Manusi hanya meratap
Memanggil Tuhannya dan memaki nasib
Kita memang tidak pernah tahu pasti alam bicara apa

-Taufik Daulay-


Brainwash

Cuci Otak di Dalam Dunia Intelijen
Oleh : Taufik Daulay
 
Cuci otak atau brainwash sudah menjadi hal yang sangat jamak dilakukan di dalam dunia intelijen ala James Bond. Operasi rahasia yang dilancarkan oleh badan intelijen ternama seperti CIA (Central Intelligence of America) adalah salah satu lembaga yang piawai dalam memanipulasi dan mengontrol pikiran manusia.

Proyek MK-Ultra adalah salah satu program yang bertujuan untuk mencari taktik yang paling jitu dalam melakukan mind-controlling dan brainwash untuk meraih informasi yang berguna bagi Amerika. Sebanyak 7.800 warga Amerika telah dijadikan human experiment  Oleh CIA.

Robert Duncan, seorang warga negara Amerika Serikat memberikan kesaksiannya sebagai korban proyek MK-Ultra CIA. Kisahnya berawal dari berdirinya satu lembaga semacam aktivasi otak tengah di dekat rumahnya di Kentucky pada tahun 1960-an. Banyak anak kecil yang mengikuti training yang diadakan oleh lembaga tersebut. Pelatihan dipenuhi dengan aktivitas menggambar bebas di secarik kertas. Tanpa disadari, ternyata sang pelatih yang ada di dalam lembaga tersebut merupakan spesialis brain programming. Sang pelatih menggunakan otaknya sebagai transmiter atau pemancar yang memancarkan gambaran beberapa struktur bangunan sederhana, seperti lingkaran, segitiga, dan persegi empat, dan menyebarkan gambaran itu ke seluruh ruangan agar bisa ditangkap oleh anak-anak tersebut. Beberapa anak yang dapat menangkapnya, digiring untuk mengikuti pelatihan khusus yang belakangan diketahui sebagai talent project, bagian dari proyek MK-Ultra. Mereka kemudian dilatih secara khusus sehingga memiliki kepribadian ganda / multiple personality. Setiap peserta kemudian diberikan satu anchor atau kata kunci, berupa kata, gambar, atau bunyi tertentu, di mana setiap anchor akan mengaktifkan kepribadian atau peran tertentu yang harus dilakukan sang anak. Hal ini persis seperti apa yang dilakukan para ahli hypnosis pinggir jalan di Jakarta yang mencari titik fokus kita dan memasuki pikiran bawah sadar kita melalui titik fokus tersebut.
Kisah Robert Duncan mengingatkan kita pada nasib yang menimpa James Forrestal –pencipta dan komandan berbagai operasi CIA. Setelah mundur dari jabatannya sebagai mentri pertahanan, 28 Maret 1949, ia sering menyendiri di perpustakaan kongres. Kepada Dr William C. Menninger, ahli jiwa yang menanganinya, ia sering mengeluh sulit tidur. Pada malam ke 50 di ruang unit kejiwaan, ia menulis puisi Yunani, “Paduan Suara Dari Ajax”. Pada sebuah baris ia menulis kata nightingale, sontak ia menjatuhkan diri dari lantai 16. Usut punya usut, ternyata kata tersebut merupakan sandi rahasia perlawanan pasukan Ukraina yang diberi wewenang oleh James untuk melawan pasukan Stalin. 

Bicara soal pengendalian otak, tidak jauh dari masalah alam bawah sadar. Ada sebuah fenomena menarik yang seringkali menimpa banyak orang dikala menjelang tidur. Beberapa orang seringkali mengalami sleep paralysis, kondisi antara alam bawah sadar dan alam sadar ketika menjelang tidur nyenyak. Hal – hal mengejutkan banyak terjadi ketika itu. Setiap orang yang mengalaminya memiliki sensasi tersendiri yang mengerikan. Seperti melihat penampakan hantu, sensasi digoyang – goyang, dll. Namun yang pasti terjadi adalah sensasi ditiban yang membuat badan kita tidak bisa bergerak dan mulut tidak bisa berbicara. Yang tidak kalah menarik, beberapa ahli medis meyakini adanya lucid dream. Yaitu mimpi yang dapat kita kendalikan seperti di film Inception. Tahap tersebut dapat kita capai jika kita dapat melewati tahap sleep paralysis tanpa terbangun dari tidur, seperti yang dialami kebanyakan orang, terbangun karena panik bukan main.
Bahkan yang tidak kalah gilanya adalah kenyataan bahwa otak manusia mengeluarkan gelombang yang dapat disadap. Fakta bahwa otak manusia mengeluarkan sinyal yang dapat menyampaikan pesan sudah lama ditemukan oleh sekelompok ahli neuron Amerika Serikat. Pada mulanya, sinyal ditangkap oleh alat deteksi melalui kabel – kabel yang dilekatkan ke kepala manusia. Seiring berjalannya eksperimen, alat tersebut dikembangkan menjadi nirkabel. Hingga pada akhirnya mereka dapat menangkap sinyal tersebut dari jarak jauh. Alat tersebut telah menjadi salah satu teknologi tercangih di dalam dunia penyadapan, yang disokong jaringan komputer dan satelit mata – mata yang disebut Echelon.
Saat ini kita banyak menemukan hubungan antara pengendalian pikiran dengan film (film kartun hingga film dewasa), musik (antara lain lewat menyisipkan pesan tersembunyi di dalam lagu atau pidato lewat teknik backmasking), televisi, buku dan majalah, iklan produk dalam rentang yang luas, dan sebagainya. Teknik ini dipakai sejak lama dan terus dikembangkan hingga sekarang, dalam lapangan sipil maupum militer. Seperti banyak orang percaya umat manusia akan terbangun dari mimpi buruknya di pagi hari tahun 2012, menyaksikan dunia akan kiamat. Tetapi itu hanyalah khayalan tingkat tinggi oleh mereka yang diuntungkan, suatu bentuk strategi Hollywood untuk melariskan film buatannya. Alat untuk menghipnotis dan mengontrol pikiran manusia agar menjadi pesismis akan kehidupan masa depan.
Bergelut di dunia intelijen memang diliputi misteri dan penderitaan yang tak pernah terbayangkan. Bahkan sampai ada sebuah motto ngawur  untuk menyindir Badan Intelijen Negara (Indonesia) : berhasil tidak dipuji, gagal dicaci maki, hilang tidak dicari, mati tidak diakui.

Dunia intelijen penuh intrik dan telikung. Tiada terang yang terlalu, hanya kegelapan yang menyelimuti. Lidah memang tak bertulang, biar janji manis tinggal kenangan. Kita memang tidak pernah mengenal siapa khianat, siapa setia. Hanya sandiwara buta yang kita lakoni sampai ajal menjelang.

Pembaca yang budiman, akhir kata penulis hendak mengutip sebuah kalimat dari petinggi CIA, George J. Tenet : “Akan ada saatnya kita harus berlomba mengejar hal – hal yang tidak kita perhitungkan sebelumnya, bukan karena seseorang tidur saat giliran jaga, melainkan apa yang sedang terjadi terlalu rumit untuk diantisipasi”.