Jumat, 10 Mei 2013

Sampai Kapan Menjadi Manusia Tanpa Kepala

Kemana semua ini ? Semua terbengkalai bak guci yang terjatuh ke lantai.
Lalu kaca-kaca melukai kaki kotor menginjak tanah yang basah.
Darah menetes bersama rasa perih.
Ooo.. Durjana kenapa negeriku bermuram durja dalam kekalutan yang tiada berpangkal harapan.
Sampai kapan kita menjadi manusia tanpa kepala ?

-Juni, 2012-

Rabu, 08 Mei 2013

Kebenaran Relatif

Ini dunia memang sudah lepas dari tafsir tunggal.
Semua punya kebenaran yang relatif.
Kata-kata hanya menjadi penjara bagi makna yang luas artinya.
Logosentrisme adalah khayalan bagi mereka yang terkurung kesadaran palsu ideologi.
Robohkan tembok-tembok kemutalakan.
Kita harus hidup dalam dunia yg merayakan kebebasan.

-Juni, 2012-

Selasa, 07 Mei 2013

Tetesan Kehidupan

Di setiap tetesnya.....
Ada harapan juga ketakutan
Kesenangan juga kesedihan
Jutaan peluang mata dadu terlempar
pada takdir yang mungkin tertulis : sperma.

-Tahun 2012, entah bulan apa-

Senin, 06 Mei 2013

Duka Kalbu

Bukan kesangean betul yang menusuk kalbu
tapi karena ironi mendusta di dalam debu dan keheningan
kehampaan makna mengalir deras di antara keramaian dan terang
waktu berjalan meninggalkan kita yang rindu pada masa-masa yang berlalu
dan duka menganga bertakhta

-Tahun 2012, entah bulan apa, redaksional terinspirasi dari sajak Chairil Anwar-

Sabtu, 04 Mei 2013

Buku Motivasi

"Hey, apa buku motivasi yg dapat menciptakan perubahan pada dirimu ?" aku bertanya.
Lalu ia berkilah tanpa pesan.
Mengoyak sobek kertas-kertas jahanam.
Membakarnya dan menanam debunya pada pekarangan rumah belakang.
Seraya berkata setengah teriak "persetan buku motivasi, kita harus menjadi diri sendiri".
Mukanya keras seperti batu kali.
Kenapa buku-buku itu terpajang pada rak-rak toko buku, menampilkan harga yang tak selalu murah. Kita tak pernah benar-benar berubah.

-Tahun 2012, entah bulan apa-

Selasa, 30 April 2013

Hukum Low / High Trust Society

Di kelas 'Bisnis & Politik' seorang dosen mengajarkan sebuah adagium ini : low trust society = high cost society.

Dalam sebuah masyarakat yang memiliki tingkat saling kepercayaan yang rendah akan menimbulkan biaya ekonomi yang tinggi.

Mengapa demikian ? Contoh sederhanya dapat kita temukan dalam keseharian kita. Misalnya, ketika kita hendak berurursan dengan seorang profesional, seperti dokter, insinyur, arsitek, ahli ini, ahli itu, kita seringkali tidak mudah percaya begoitu saja dengan sertifikat kehalian yang mereka miliki. Yang akan kita lakukan untuk yakin akan keahliannya adalah dengan menanyai banyak orang tentang reputasi dan keasliannya. Maka dengan demikian, kita sudah mengulur banyak waktu dan tenaga untuk meyakini keahlian seseorang. Keraguan itu timbul karena kita sering menyaksikan sertifikat atau ijazah palsu. Contoh lainnya, adalah ketika ada seorang peminta sumbangan yang datang kepada kita. Alih - alih memberi sumbangan, seringkali kita curiga dan menghindar. Karena kita sudah mafhum bahwa peminta sumbangan seringkali palsu. Lalu bagaimana contoh untuk masyarakat yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi ? Kita dapat melihat salah satu contohnya di Australia. Di negeri Kangguru tersebut, sebuah surat izin mengemudi hanyalah berupa secarik kertas yang menorehkan nama lengkap dan tempat serta tanggal lahir pengemudi. Tanpa foto dan identitas detil lainnya. Lantas, bukankah dengan demikian maka sang pengemudi bisa saja berbohong. Ternyata cara polisi meyakini keaslian kepemilikan SIM tersebut adalah dengan menanyakan tempat tanggal alhir si pengemudi. Jika si pengemudi dapat menjawabnya dengan lancar, maka artinya SIM tersebut benar - benar milik si pengemudi. Begitu tingginya tingkat kepercayaan di masyarakat tersebut. Alhasil, biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi sebuah SIM menjadi jauh lebih murah. Karena tidak harus mencetak foto, tidak membutuhkan kertas yang tebal dan mahal dan berbagai keefisienan lainnya.  

Di balik semua ketidakpercayaan yang merajalela itu, saya melihat sebuah oase kepercayaan dari sebuah warteg. Beberapa warteg yang kita temui memiliki sistem pembayaran prabyar. Artinya, kita makan dulu, baru setelah itu kita membayar dengan menyebutkan menu apa saja yang sudah kita ambil. Saya pikir, kenapa sih si tukang warteg begitu percaya kepada si pemebeli bahwa dia akan jujur menyebutkan menu apa saja yang sudah diambil. Sebaliknya, si pembeli kenapa sih begitu jujur untuk menyebut menu - menu yang mereka makan, padahal kan bisa saja ia berbohong agar biayanya lebih murah. Terlepas dari itu semua, jangan sampai kita mengkhianati kepercayaan yang sudah ditipkan oleh si tukang warteg kepada kita.

Sabtu, 27 April 2013

Batalyon Iblis


Kesedihan, ketakutan, rasa geram datang berderap
Berbaris rapih menggetarkan sukma
Mengetuk pintu jiwa
Mengobrak abrik pikiran yang tenang
Semua berat dan sesak
Merasa tak berguna

Kamis, 25 April 2013

Mengetik Kata


Ribuan kata kuketik
Dan kau membalas
Dialog yang mengisi ruang
Berbicara tanpa suara
Tertawa tanpa bahana
Kesedihan tanpa air mata
Kesenangan yang kuurai dalam karakter huruf, simbol dan angka
Lalu kau baca
Berharap kita terus melakukannya sampai habis pulsa

Rabu, 24 April 2013

Mengurung


Kau mengurung diri di dalam ruang
Bersama kepulan asap yang keluar bak cerobong
Sampai basah di lantai mengering
Jauh dari kerumunan

Rabu, 17 April 2013

Hujan Deras Telah Reda


Tadi kesedihan mengucur deras
Dari awan pikiran yang mendung
Hujan yang selalu kau rindukan
Karena Membasahi tanah jiwa yang gersang